Poin Kunci Artikel Ini
- Infeksi virus herpes simplex pada mulut yang menular melalui air liur
- Gejala: demam, lepuhan berisi cairan, luka sangat nyeri di gusi dan mulut
- Diagnosis berdasarkan gambaran klinis khas yang muncul tiba-tiba
- Penanganan fokus meredakan nyeri, menjaga hidrasi, dan membiarkan tubuh melawan virus
Apa itu Stomatitis Herpetik
Stomatitis herpetik adalah infeksi pada rongga mulut yang disebabkan oleh virus herpes simplex, biasanya tipe 1. Kondisi ini lebih sering mengenai anak-anak dan remaja, meskipun orang dewasa juga bisa terkena, terutama saat sistem kekebalan sedang lemah. Infeksi ini menimbulkan luka berupa lepuhan dan ulkus (luka terbuka) yang sangat nyeri di gusi, langit-langit mulut, atau lapisan dalam pipi. Berbeda dengan sariawan biasa, stomatitis herpetik muncul tiba-tiba dan disertai gejala tubuh secara keseluruhan seperti demam tinggi.
Tanda dan Gejala
Gejala stomatitis herpetik biasanya muncul 2–7 hari setelah paparan virus. Pasien akan merasakan:
- Demam tinggi yang tiba-tiba
- Rasa tidak enak badan dan nyeri tubuh
- Lepuhan kecil berisi cairan jernih di gusi, bibir bagian dalam, atau pipi bagian dalam — awalnya merah, kemudian pecah menjadi ulkus yang sangat sakit saat makan atau berbicara
- Keluarnya air liur berlebihan
- Kesulitan menelan makanan atau minuman
- Pembengkakan dan rasa gatal di gusi sebelum lepuhan muncul
- Bau mulut
- Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
Gejala mencapai puncaknya pada hari ke-3 hingga ke-5, lalu perlahan membaik dalam 7–10 hari tanpa meninggalkan bekas parut.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab utama adalah virus herpes simplex tipe 1 yang menular melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuhan atau air liur penderita. Virus ini dapat bertahan di benda yang terkontaminasi seperti sendok, gelas, atau mainan. Di iklim tropis seperti Indonesia, infeksi ini dapat terjadi sepanjang tahun, termasuk saat udara lembab atau seseorang mengalami stres karena suhu ekstrem atau perubahan lingkungan.
Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena antara lain:
- Kontak dekat dengan penderita yang sedang mengalami infeksi aktif
- Usia anak-anak dengan sistem imun yang masih berkembang
- Adanya luka di mulut akibat gigitan pipi, kawat gigi, atau sikat gigi kasar
- Sistem kekebalan tubuh yang melemah
- Stres fisik atau emosional berkepanjangan
- Kekurangan vitamin atau nutrisi tertentu
Setelah infeksi pertama sembuh, virus tetap "tidur" di dalam saraf dan dapat muncul kembali saat kondisi tubuh lemah atau stres — fenomena ini disebut reaktivasi.
Cara Diagnosis
Diagnosis stomatitis herpetik umumnya berdasarkan gambaran klinis yang khas: lepuhan dan ulkus di mulut yang muncul tiba-tiba disertai demam. Dokter akan menanyakan waktu munculnya gejala, adanya kontak dengan penderita serupa, dan riwayat alergi atau kondisi medis lain. Pada kasus tertentu, dokter mungkin mengambil sampel cairan dari lepuhan untuk tes laboratorium, meski jarang diperlukan karena ciri-ciri sudah cukup jelas.
Penanganan
Stomatitis herpetik adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Penanganan difokuskan pada meredakan gejala dan mencegah komplikasi:
- Mengurangi rasa nyeri: Berkumur dengan air hangat dan garam, atau menggunakan obat kumur antiseptik yang direkomendasikan dokter
- Istirahat dan hidrasi: Minum banyak cairan (air, jus dingin, atau minuman lembut) untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi, terutama saat sulit menelan
- Nutrisi: Konsumsi makanan lunak dan mudah ditelan, hindari makanan pedas, asam, atau sangat panas yang dapat mengiritasi luka
- Kebersihan mulut: Sikat gigi dengan lembut menggunakan sikat berbulu halus
- Penurun demam dan nyeri: Sesuai dosis untuk usia penderita atas rekomendasi dokter
Dalam kasus yang lebih berat atau penderita dengan sistem imun lemah, dokter mungkin meresepkan antivirus topikal atau untuk diminum guna mempercepat penyembuhan.
Komplikasi dan Prognosis
Pada mayoritas kasus, stomatitis herpetik berlangsung ringan dan sembuh dalam 1–2 minggu tanpa komplikasi. Namun, jika tidak dijaga dengan baik, beberapa komplikasi bisa terjadi seperti dehidrasi (terutama pada anak-anak kecil yang sulit menelan) atau infeksi sekunder jika luka tergores dan tersentuh tangan kotor. Pasien dengan sistem imun sangat lemah dapat mengalami infeksi yang lebih parah dan berkepanjangan.
Kapan Harus ke Dokter
Konsultasi ke dokter spesialis THT atau dokter umum jika demam berlangsung lebih dari 3–4 hari atau mencapai 39 °C, luka di mulut sangat nyeri dan mengganggu nutrisi, terjadi tanda dehidrasi, gejala tidak membaik setelah 10 hari, atau muncul tanda infeksi sekunder. Bayi dan orang dengan sistem imun lemah perlu penanganan lebih cepat.
Punya keluhan serupa?
Pemeriksaan langsung membantu memastikan penyebab dan menentukan langkah yang tepat. Buat janji dengan Spesialis THT-BKL di RS Columbia Asia Semarang.
Hubungi Admin RSCA Semarang