Poin Kunci Artikel Ini
- Abses retrofaring dan parafaring memerlukan diagnosis cepat dengan pemeriksaan fisik dan imaging
- Alur pemeriksaan meliputi riwayat, pemeriksaan mulut-faring, dan CT scan atau ultrasound
- Penanganan tergantung luas abses: antibiotik konservatif atau drainase tindakan
- Persiapan dan pemulihan yang tepat menentukan hasil perawatan yang optimal
Kapan Harus ke Dokter THT?
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami nyeri tenggorokan parah yang tidak hilang dalam 2–3 hari, disertai kesulitan menelan, demam tinggi, pembengkakan leher, atau napas terasa berat, jangan menunggu—segera ke dokter spesialis THT atau unit gawat darurat. Keterlambatan penanganan dapat memperburuk kondisi. Abses di ruang dalam tenggorokan (retrofit dan parafaring) adalah kondisi yang memerlukan intervensi medis, bukan sekadar radang biasa.
Alur Pemeriksaan di Dokter THT
Ketika Anda tiba di dokter THT dengan keluhan nyeri tenggorokan dan pembengkakan, dokter akan melakukan pemeriksaan bertahap untuk memastikan diagnosis.
Anamnesis (Tanya Riwayat)
Dokter akan menanyakan kapan gejala dimulai, apakah ada trauma (misal benda tertusuk, menelan makanan kasar, atau prosedur gigi baru-baru ini), demam, riwayat penyakit gigi, serta obat-obatan yang Anda gunakan. Informasi ini penting karena abses parafaring kerap berasal dari infeksi gigi atau menelan benda asing.
Pemeriksaan Fisik
Dokter akan melihat tenggorokan Anda dengan cermin khusus (faringoskop) atau alat endoskopi fleksibel. Ia akan mencari tanda-tanda pembengkakan, pergeseran dinding faring, atau adanya pus. Dokter juga meraba leher untuk mendeteksi pembengkakan kelenjar atau indurasi (pengerasan jaringan) yang menunjukkan infeksi dalam.
Pemeriksaan Penunjang
CT Scan Kepala dan Leher adalah gold standard untuk menentukan ukuran abses, lokasi pasti, dan ada tidaknya komplikasi seperti tersumbatnya jalan napas atau penyebaran infeksi ke ruang mediastinum (rongga dada dalam). Pemeriksaan ini membantu dokter memutuskan apakah perlu tindakan segera.
Ultrasound dapat digunakan sebagai alternatif jika CT tidak tersedia, terutama untuk abses parafaring superfisial. Hasil ultrasound cukup akurat untuk menilai ada tidaknya cairan (pus) dan ukurannya.
Tes Darah meliputi hitung leukosit dan panggung hemostasis untuk mengetahui derajat infeksi dan persiapan operasi jika diperlukan.
Biakan Pus diambil saat drainase untuk mengetahui jenis bakteri dan sensitivitas antibiotik, memastikan pilihan obat tepat sasaran.
Pilihan Penanganan
Penanganan Konservatif
Jika abses berukuran kecil, belum terlalu banyak pus, dan jalan napas tidak terganggu, dokter mungkin memulai dengan antibiotik spektrum luas yang diminum atau suntikan, ditambah istirahat, asupan cairan, dan makanan lunak. Kondisi akan dipantau dengan pemeriksaan lanjutan setelah 2–3 hari. Jika membesar atau tidak membaik, barulah diperlukan drainase.
Drainase Abses
Jika abses besar, banyak pus, atau mengganggu jalan napas, dokter akan melakukan drainase (pengeluaran pus). Prosedur ini dapat dilakukan dengan cara:
- Aspirasi jarum: Jarum tertanam pada suntikan dimasukkan ke area abses untuk mengeluarkan pus, kemudian diambil sampel untuk biakan.
- Insisi dan drainase: Dokter membuat sayatan kecil di tenggorokan (di bawah anestesi lokal atau umum) untuk mengeluarkan pus dan memasang drain kecil jika perlu. Prosedur ini lebih invasif tetapi lebih efektif untuk abses besar.
- Guided drainage: Dokter menggunakan panduan ultrasound atau CT untuk memastikan akurasi penempatan jarum atau drain.
Persiapan Sebelum Drainase
Jika dokter merencanakan prosedur drainase, Anda akan diminta puasa 6–8 jam sebelumnya, terutama jika menggunakan anestesi umum. Pemberian antibiotik profilaksis (pencegahan infeksi lanjut) akan diberikan sebelum prosedur. Dokter juga akan memeriksa status kesehatan umum Anda, riwayat alergi obat, dan obat-obatan yang Anda gunakan (beberapa mungkin perlu dihentikan sementara).
Pemulihan Setelah Penanganan
Setelah drainase atau aspirasi, Anda akan dipantau di fasilitas kesehatan selama beberapa jam untuk memastikan tidak ada perdarahan atau napas tersenggal. Antibiotik akan dilanjutkan selama 7–10 hari. Hindari makanan panas, pedas, dan keras selama 1–2 minggu; pilih makanan lembut seperti bubur, yoghurt, dan sup hangat. Minum banyak air putih untuk membantu pemulihan.
Jika ada drain (selang kecil) di leher, jangan disentuh atau dicabut sendiri—biarkan dokter melepasnya sesuai jadwal. Tanda-tanda perlu kembali ke dokter: demam tinggi kembali, pus keluar lagi, napas sesak, atau nyeri yang memburuk.
Pertanyaan yang Sering Diajakan Sebelum Berobat
Apakah abses ini bisa hilang tanpa operasi? Abses kecil tanpa hambatan napas kadang bisa merespons antibiotik saja, tetapi butuh pantauan ketat. Abses besar hampir selalu perlu drainase agar cairan pus benar-benar keluar dan infeksi tidak menyebar.
Berapa lama waktu pemulihan setelah drainase? Kebanyakan pasien bisa makan normal dan kembali aktivitas ringan dalam 1–2 minggu, tetapi pemulihan penuh (hilangnya bengkak dan nyeri) dapat memakan waktu 2–4 minggu tergantung ukuran dan kedalaman abses.
Apakah abses ini bisa kambuh? Jika penyebab awalnya (misalnya gigi terinfeksi) ditangani, risiko kambuh kecil. Namun jika sumber infeksi diabaikan, abses dapat terbentuk lagi.
Bagaimana mencegah abses retrofaring atau parafaring? Jaga kesehatan gigi dengan sikat gigi 2 kali sehari dan kontrol gigi rutin, hindari menelan benda asing atau makanan bertulang, dan segera tangani infeksi gigi atau tenggorokan sebelum meluas. Lihat juga artikel kami tentang penjelasan lengkap abses retrofaring dan parafaring untuk memahami tanda-tanda dini yang perlu diwaspadai.
Punya keluhan serupa?
Pemeriksaan langsung membantu memastikan penyebab dan menentukan langkah yang tepat. Buat janji dengan Spesialis THT-BKL di RS Columbia Asia Semarang.
Hubungi Admin RSCA Semarang