Abses Retrofaring dan Parafaring: Tanda Bahaya dan Penanganan Darurat

Abses di belakang tenggorokan bisa menyebabkan kesulitan napas. Ketahui tanda bahaya, pertolongan pertama, dan kapan harus ke IGD segera.

Abses Retrofaring dan Parafaringabsestenggorokan

Poin Kunci Artikel Ini

  • Abses retrofaring dan parafaring adalah infeksi serius di belakang tenggorokan yang bisa menekan jalan napas
  • Tanda bahaya meliputi kesulitan menelan, demam tinggi, bengkak leher asimetris, dan napas berbunyi
  • Ini kedaruratan—segera ke IGD, jangan tunggu atau coba obat rumahan
  • Penanganan memerlukan antibiotik infus dan drainase medis oleh dokter

Apa yang Terjadi?

Abses retrofaring dan parafaring adalah kumpulan nanah (pus) yang terbentuk di ruang sempit di belakang dan samping kerongkongan, tepat di balik amandel. Ruang ini tidak terlihat jika hanya melihat ke dalam mulut, sehingga infeksi sering tidak disadari sampai gejala memberat. Infeksi bisa muncul akibat penyebaran dari gigi yang terinfeksi parah, radang amandel berat, atau trauma kecil yang tidak terlihat di daerah tenggorokan.

Kondisi ini termasuk kedaruratan medis karena nanah yang menumpuk bisa menekan jalan napas atau menyebar ke rongga dada dalam hitungan jam. Perbedaan dengan abses peritonsil adalah lokasinya yang lebih dalam dan lebih dekat ke struktur penting leher, sehingga risiko komplikasinya lebih tinggi.

Tanda-Tanda Bahaya yang Perlu Ke IGD Segera

Jangan tunggu—bawa diri sendiri atau anggota keluarga ke IGD jika mengalami:

Pertolongan Pertama: Lakukan Ini

Segera ke IGD — jangan tunda. Jika sulit bernapas sangat berat, panggil ambulans daripada mengemudi sendiri.

Pertolongan Pertama: Jangan Lakukan Ini

Penanganan di Fasilitas Kesehatan

Di IGD atau ruang rawat THT, dokter akan melakukan:

Perawatan lanjutan meliputi minum antibiotik sesuai resep sampai habis (biasanya 7-14 hari), istirahat, dan kontrol berkala dengan dokter THT untuk memastikan tidak ada komplikasi atau kambuhan.

Pencegahan

Punya keluhan serupa?

Pemeriksaan langsung membantu memastikan penyebab dan menentukan langkah yang tepat. Buat janji dengan Spesialis THT-BKL di RS Columbia Asia Semarang.

Hubungi Admin RSCA Semarang

FAQ

Apakah abses retrofaring sama dengan abses peritonsil?
Tidak sama. Abses peritonsil terbentuk di antara selaput amandel dan dinding kerongkongan, sedangkan abses retrofaring terbentuk di belakang kerongkongan lebih dalam. Kedua-duanya serius, namun lokasi dan penanganannya sedikit berbeda. Dokter akan membedakan berdasarkan gejala dan hasil imaging.
Bisakah abses retrofaring disebabkan oleh sakit gigi?
Ya. Infeksi dari gigi yang tidak ditangani bisa menyebar ke ruang leher dalam. Gigi berlubang, gigi yang patah, atau gigi dengan akar bermasalah sering menjadi sumber. Oleh karena itu, sakit gigi yang tidak hilang harus segera ditangani agar tidak berkembang.
Apa yang terjadi jika abses retrofaring tidak ditangani?
Infeksi bisa menyebar lebih dalam ke dada (kondisi serius yang disebut mediastinitis), atau ke dalam darah (septisemia). Dalam kasus terparah, bisa menekan jalan napas hingga benar-benar memblokir napas dan mengancam nyawa. Itulah mengapa penanganan segera di IGD sangat penting.
Berapa lama pemulihan setelah drainase?
Pemulihan umumnya beberapa hari hingga 1-2 minggu, tergantung beratnya infeksi dan respons tubuh pasien. Pasien perlu minum antibiotik lengkap sesuai resep (jangan berhenti lebih awal), menjaga area tetap bersih, dan kontrol berkala dengan dokter THT untuk memastikan tidak ada komplikasi.
Catatan Medis: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi langsung. Konsultasikan keluhan Anda ke Spesialis THT-BKL untuk evaluasi yang tepat.

Informasi Praktik Dokter

dr. Yanuar Iman Santosa, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. AI(K.), MSi.Med.

Spesialis THT-BKL & Konsultan Alergi Imunologi · RS Columbia Asia Semarang · Lihat Profil Lengkap

Buat Janji Sekarang