Poin Kunci Artikel Ini
- Atresia koana adalah kelainan bawaan saat saluran belakang hidung tertutup
- Gejala utama pada bayi: kesulitan bernafas, suara serak, tidak bisa menyusu lancar
- Diagnosis memerlukan pemeriksaan fisik dan nasal endoscopy
- Penanganan adalah operasi untuk membuka saluran tersumbat
Apa Itu Atresia Koana?
Atresia koana adalah kelainan bawaan lahir di mana saluran belakang hidung (koana) tertutup atau tidak terbentuk sempurna, sehingga udara tidak bisa masuk melalui hidung ke tenggorokan. Kelainan ini terjadi karena gangguan perkembangan saat bayi masih di dalam kandungan. Koana adalah pembukaan kecil di belakang rongga hidung yang menghubungkan ke nasofaring (bagian atas tenggorokan). Ketika tertutup, bayi akan mengalami kesulitan bernafas yang kadang sangat mendesak.
Atresia koana bisa terjadi pada satu sisi hidung saja (unilateral) atau kedua sisi (bilateral). Kasus bilateral adalah keadaan darurat medis karena bayi hanya bisa bernafas melalui mulut, dan bayi baru lahir belum mampu bernapas melalui mulut saat menyusu.
Tanda dan Gejala
Gejala atresia koana pada bayi biasanya tampak sejak lahir atau dalam hari-hari pertama kehidupan. Tanda-tanda yang perlu Anda perhatikan meliputi:
- Kesulitan bernafas atau pernapasan cepat dan pendek (terutama saat bayi mencoba menyusu)
- Suara bernafas yang noisy atau berisik (stridor)
- Suara serak atau berbeda dari normal
- Bayi tidak bisa menyusu dengan baik atau sering tersedak
- Warna kulit bayi kebiruan (sianosis) saat kesulitan bernafas
- Pada kasus bilateral, bayi sangat gelisah dan kesulitan signifikan
Pada atresia koana unilateral (satu sisi), gejala mungkin tidak langsung terlihat sebagai kedaruratan, tetapi bayi tetap mengalami kesulitan bernafas saat hidung tersebut tersumbat oleh lendir.
Penyebab dan Faktor Risiko
Atresia koana terjadi karena kelainan perkembangan embrio selama kehamilan. Normalnya, pada minggu ke-6 hingga ke-8 kehamilan, saluran hidung seharusnya terbentuk dengan sempurna. Gangguan pada proses ini menyebabkan membran (selaput) di belakang hidung tidak hilang atau tulang/jaringan lunak terbentuk abnormal, menutup saluran tersebut.
Penyebab pasti atresia koana belum sepenuhnya diketahui. Namun, kelainan ini dapat terjadi sebagai kondisi tersendiri atau sebagai bagian dari sindrom genetik tertentu, seperti sindrom CHARGE. Faktor-faktor yang mungkin meningkatkan risiko masih dalam penelitian dan belum dapat dipastikan pada setiap kasus.
Cara Diagnosis
Diagnosis atresia koana dilakukan melalui pemeriksaan fisik yang teliti. Dokter akan mencoba memasukkan kateter kecil (tabung tipis) atau probe melalui hidung untuk melihat apakah ada hambatan. Jika hambatan ditemukan di belakang hidung, suspek atresia koana akan dikonfirmasi.
Pemeriksaan lanjutan yang lebih detail menggunakan nasal endoscopy (teropong hidung khusus) memungkinkan dokter melihat langsung rongga hidung dan lokasi penyumbatan. Imaging seperti CT scan atau MRI mungkin diperlukan untuk melihat struktur anatomi dengan lebih jelas dan merencanakan operasi.
Penanganan
Penanganan atresia koana adalah operasi untuk membuka kembali saluran yang tersumbat. Pada kasus bilateral yang merupakan kedaruratan, bayi mungkin perlu pertolongan pernapasan sementara sambil persiapan operasi dilakukan. Dokter spesialis THT-KL akan menentukan waktu operasi yang tepat dan teknik pembedahan yang paling sesuai dengan kondisi bayi.
Operasi bertujuan menghilangkan sumbatan dan memastikan saluran hidung terbuka dengan baik. Pemulihan setelah operasi memerlukan perawatan lanjutan untuk menjaga saluran tetap paten (terbuka) agar tidak menutup kembali.
Komplikasi dan Prognosis
Jika tidak ditangani, atresia koana bilateral dapat mengancam nyawa karena bayi tidak bisa bernafas dengan adekuat. Komplikasi lain termasuk aspirasi (masuknya cairan/makanan ke saluran pernapasan saat menyusu) dan gangguan pertumbuhan akibat kesulitan makan.
Dengan penanganan operasi yang tepat, prognosis bayi sangat baik. Mayoritas pasien dapat bernafas normal setelah operasi, meskipun diperlukan pemantauan jangka panjang untuk memastikan saluran tetap terbuka dan tidak ada stenosis (penyempitan) yang berkembang.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika bayi baru lahir Anda mengalami kesulitan bernafas yang persisten, suara bernafas abnormal, atau kesulitan menyusu sejak hari pertama, segera bawa ke rumah sakit atau unit gawat darurat. Jangan menunggu, karena pada kasus bilateral, ini adalah situasi yang membutuhkan penanganan mendesak.
Dokter spesialis THT-KL di Semarang siap membantu diagnosis dan perencanaan penanganan yang tepat untuk bayi Anda.
Punya keluhan serupa?
Pemeriksaan langsung membantu memastikan penyebab dan menentukan langkah yang tepat. Buat janji dengan Spesialis THT-BKL di RS Columbia Asia Semarang.
Hubungi Admin RSCA Semarang